Mencari Ilmu Sampai Akhir Hayat
Kamis, 22 Desember 2011
Minggu, 18 Desember 2011
Bidadari Dibalik Cadar 2”
Suatu hari Rina mendapat telepon dari papanya bahwa mamanya kembali dirawat di rumah sakit. Mendengar kabar tersebut Rina langsung menyusul papanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Rina langsung menuju ruangan dimana mamanya dirawat. Saking terburu-burunya dia menabrak seorang gadis hingga terjatuh begitu juga makanan yang dibawanya.
“Hati-hati dong mba. Makanya kalo jalan liat-liat.” Ketus Rina
“Maaf mba saya ngga sengaja.” Ucap gadis itu
Rina semakin emosi setelah tahu bahwa gadis di depannya itu adalah gadis bercadar. Dia pun mengira gadis tersebut adalah Irma teman kuliahnya dulu. Suaranya pun terdengar begitu mirip dengan suara Irma.
“Sepertinya gue kenal suara lo. Irma?!” Tanya Rina dengan angkuh
“Saya Rida mba.” Jawab gadis itu dengan terbata-bata
Gadis itu pun menunduk dan membereskan makanan yang terjatuh. Sedangkan Rina, dia melenggang pergi dengan angkuhnya tanpa satu kata ‘maaf’. Gadis itu menatap punggung Rina yang semakin menjauh. Dia pun beristighfar melihat penampilan Rina. Pakaian ketat dengan rok mini sepaha, mengumbar aurat dengan bentuk lekuk tubuhnya. Sebuah dandanan seksi menjadi tontonan gratis para lelaki jalang, para suami yang tidak menjaga matanya, dan para pemuda dengan gairah hawa nafsunya.
Segera Rida bangkit dan menuju ke ruangan pasien. Tampak seorang laki-laki paruh baya sedang terbaring lemah. Bisa ditaksir umurnya kira-kira 50 tahun. Di sampingnya seorang gadis berjilbab coklat sedang duduk sambil menyuapi laki-laki tersebut.
“Assalaamu’alaykum.” Salam Rida
“Wa’alaykumussalam. Obatnya sudah ditebus mba’?” Tanya gadis berjilbab coklat tersebut
“Sudah. Makan yang banyak ya, Pak. biar lekas sembuh.” Ujar Rida sambil meletakkan obat dan makanan yang dibawanya
“Nak, itu makanan kenapa berantakan?” Tanya sang bapak
“oh ya Pak. Tadi abis nabrak orang. Jadinya jatuh deh.” Jawab Rida sembari tersenyum
Rida seorang gadis lulusan pesantren ‘X’ di jawa tengah. Dia lulus dengan predikat mumtaz. Sempat dia ditawari mengajar di pesantren tersebut namun Rida lebih memilih mengajar di sekolah Islam di dekat rumahnya sambil merawat bapaknya. Sedangkan gadis berjilbab coklat itu adalah adiknya, Faiza. Seorang mahasiswi psykolog yang meraih beasiswa di salah satu universitas di Jakarta.
Bapaknya seorang pedagang kain dan penjual obat-obat herbal di toko yang ia bangun di samping rumahnya. Bapaknya didiagnosa terkena penyakit jantung setelah mengeluh sakit di dadanya. Sedangkan ibunya sudah lama meninggal sekitar empat tahun lalu.
“Za, karena udah dzuhur mending kamu sholat dulu. Biar mba yang jaga bapak.”
“Kalian sholat bareng aja, bapak gapapa.” Ucap sang bapak
“Mba’ aja yang sholat, Iza lagi halangan.” Jawab Faiza
“Rida sholat dulu ya Pak.”
Sang bapak pun tersenyum. Dia menatap wajah Rida sampai keluar dari ruangan. Sebuah tatapan campur aduk. Antara senyuman dan air mata. Melihat ekspresi bapaknya, Faiza pun mencoba bertanya.
“Bapak kenapa menatap mba’ Rida seperti itu?” Tanya Faiza penasaran
“Bapak Cuma kasihan aja melihat mba mu. Dia tinggalkan masa depannya demi merawat bapak. Bapak berharap dia segera menemukan jodohnya.”
“Amien.” Jawab Faiza mengamini doa bapaknya
Semenjak ibunya meninggal, Rida memang menghabiskan waktunya untuk merawat bapaknya dan mengurus rumah. Dia juga membantu biaya kuliah Faiza. Setiap ada ikhwan yang mau ta’aruf, selalu ia tolak mentah-mentah. Rida belum berniat untuk menikah.
Rida memilih sholat dimusholla daripada sholat di kamar pasien. Karena bapak Rida dirawat di kelas biasa dimana dalam satu ruangan dihuni 4-5 pasien. Sehingga dia memlih di musholla.
Sesampainya di musholla …
Pada saat Rida mau mengambil wudhu’, dia kembali bertemu dengan Rina. Rida langsung menyapanya dan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Namun, tangan Rida hanya menyentuh udara kosong. Tak ada balasan dari Rina. Hanya ekspresi kebencian melihat sosok Rida yang bercadar. Ia acuhkan Rida dengan berdandan dan memoles wajahnya di depan cermin. Rida pun tertunduk dan memilih mengambil air wudhu’.
Melihat situasi seperti ini, Rina yang penasaran mulai mengintip siapa gadis dibalik cadar itu? Irmakah atau orang lain?. Rida yang menyadari bahwa dirinya diintip oleh Rina, segera ia membatalkan niatnya untuk mengambil wudhu’. Karena merasa risih dilihat dengan tatapan penuh curiga, Rida lalu memilih mengambil wudhu’ di dalam kamar mandi.
Tingkah laku Rida membuat Rina semakin jengkel dan geram. Seperti sebuah de ja vu antara dirinya dengan Irma dahulu.
“Dasar sok kecakepan. Pake jual mahal segala!” umpat Rina sambil berlalu menuju kamar mamanya
Sifat Rina yang angkuh, temperamen, dan mau menang sendiri adalah pengaruh dari didikan orangtuanya, terutama papanya. Kesibukan orangtuanya di dunia kerja membuat Rina tumbuh tanpa bimbingan dan salah dalam memaknai kasih sayang. Semenjak kecil Rina selalu dimanja. Apapun keinginan Rina selalu dipenuhinya karena ia tumbuh dalam keluarga materialistis. Orangtuanya menilai bahwa materi adalah symbol kesempurnaan dan kasih sayang. Akhirnya, ia tumbuh menjadi sosok pribadi yang angkuh.
Rina bekerja di dunia fashion. Di mata teman-temannya, Rina adalah sosok wanita yang sempurna. Dengan kelebihan fisiknya, tak jarang dirinya selalu didaulat oleh perusahannya untuk menjadi modelnya. Padahal Rina baru beberapa bulan bekerja. Rina pun menikmati pekerjaannya sebagai model. Namun, kecantikan dan kesombongannya memicu sebuah permusuhan. Seringnya ia terpilih sebagai model, akan semakin menyulut api dendam para model wanita lainnya.
Pria Misterius…
“Enak ya punya wajah cantik?!” ucap seorang wanita
“Lo ngomong ma gue?” Tanya Rina sambil menyisir rambut panjangnya
Wanita itu enggan menjawab pertanyaan Rina. Ia malah asyik berkicau sambil berdandan berdampingan dengan Rina.
“Tapi gimana ya, seandainya wajah yang cantik dan mulus itu tergores benda tajam. Pasti jadi jelek ya.” Ceracau wanita itu
“Maksud lo apaan. Lo ngomongin gue?” Tanya Rina geram
“Iya, gue ngomongin kesombongan lo.” Jawab wanita itu
“Jadi lo iri dengan kecantikan gue.” Cibir Rina menantang
“Eh, lo jangan macem-macem ma gue. Sebaiknya lo keluar dari pekerjaan lo sekarang sebelum gue berbuat lebih nekat.” Ancam wanita itu dengan pisau
Sontak saja Rina kaget melihat pisau di depan matanya. Tiba-tiba..
“Ada apa ya mba?” Tanya Rida
Melihat Rida, wanita itu pun pergi dengan tatapan penuh kebencian dan dendam. Sedangkan Rina bukannya berterima kasih malah bersikap dingin seperti biasanya.
“mba’, gapapa?” Tanya Rida
“lo ga usah pura-pura baik. Lo ngapain disini? Lo ngikutin gue?” hardik Rina
Rina melangkah pergi dengan perasaan tertekan. Rida merasa bahwa ada masalah antara Rina dan teman kerjanya. Kebetulan waktu itu Rida berada di kamar mandi. Samar-samar ia mendengar ancaman wanita itu. Setelah memenuhi hajatnya, Rida pun keluar dari kamar mandi.
Rina tidak menggubris ancaman wanita tersebut. Baginya ancaman tersebut hanyalah gertak sambel. Dia juga tidak kenal dengan wanita itu. dia menganggapnya suatu kewajaran karena memang banyak wanita iri terhadap kecantikannya.
Wanita itu pun membuktikan ancamannya. Jika dalam 24 jam Rina tidak keluar dari pekerjaannya maka Rina akan menghadapi ancaman yang lebih besar. Rina tetap tidak bergeming. Dia justru membalas sms ancaman wanita tersebut seolah menantang.
(Dua hari kemudian, tepat pukul 01.00 pagi..)
“Tolong…tolong…” Teriak Rina meminta tolong
Seorang pria berkaca mata dengan pakaian jubah mencoba memperkosa Rina di kamar mandi musholla. Mulut Rina segera dibungkam dengan kain agar Rina tak berteriak. Dengan sekuat tenaga Rina melawan pria itu. Namun, tenaga pria itu jauh lebih kuat dari Rina yang hanya seorang wanita. Terlihat Rina sangat ketakutan, air matanya menetes. Sorot matanya menunjukkan rasa memelas, berharap pria itu tidak menodainya.
“Dengar, Jika lo melawan—gue ngga segan-segan memperkosa lo!” ancam pria itu
Rina lalu menuruti kata-kata pria tersebut karena dia tidak ingin berakhir dengan membawa aib seumur hidupnya. Dalam hatinya berharap akan ada orang yang menolongnya. Satu-satunya harapan adalah Rida, gadis bercadar yang selalu bertemu dengannya di kamar mandi.
Pria itu mengambil hpnya dan menelepon seseorang. Terdengar suara seorang wanita dibalik Hpnya. Sepertinya suara itu adalah suara wanita yang mengancam Rina waktu di kamar mandi. Pria itu kemudian mengaktifkan speaker phone-nya agar didengar oleh Rina.
“Gue kan udah peringatin lo. Keluar dari pekerjaan lo. Sekarang lo rasain kesombongan lo.!” suara wanita itu lantang
Rina ingin mengatakan sesuatu tapi usahanya sia-sia. Mulutnya terkunci rapat. Badannya terkulai lemas tak berdaya. Wanita itu langsung menutup pembicaraannya. Segera pria misterius itu mulai melakukan aksinya. Hawa nafsunya pun tak terelakkan. Dengan sisa tenaga yang ada, Rina mencoba memberontak. Dia menendang pria itu tepat mengenai kemaluannya. Pria itu meringis kesakitan. Semakin kalap, pria itu menampar Rina hingga tak sadarkan diri.
Laki-laki itu menyeringai puas melihat Rina pingsan. Selangkah lagi pria itu hampir menodai Rina, namun secepat kilat datanglah seorang pria-papanya, dua orang satpam, dan Rida. Pria itu kaget dan mencoba melawan. Namun, petugas keamanan segera menangkap dan mengamankan pria itu. Papanya segera membawa Rina ke kamar pasien dibantu Rida.
***
Esok harinya…
“Adek, gapapa?” Tanya sang papa
“Adek udah hancur pa. Adek mati aja!” Teriak Rina histeris
“Assalaamu’alaykum.” Sapa Rida
“Wa’alaykumussalaam.” Balas papa Rina
Papanya Rina beranjak keluar ruangan agar Rida lebih leluasa berbicara dengan Rina. Namun, Rina seolah tidak menginginkan kehadiran Rida, gadis yang dibencinya.
“Ngapain lo kesini? Mau ngetawain gue atau jangan-jangan ini rencana lo. Pergi?!” tuduh Rina sambil mengusir Rida
Melihat sikap Rina yang menghujat habis-habisan, papanya berusaha menenangkan Rina. Papanya menasihati Rina agar tidak bersikap arogan dan kekanak-kanakan. Sedangkan Rida keluar meninggalkan Rina dan papanya dalam keadaan tertunduk. Dia memahami sikap Rina saat ini. Perasaan tertekan dan penuh amarah membuatnya sangat emosional.
”sayang, kamu ngga boleh bersikap seperti itu. Dia ingin menjenguk kamu. Bukankah dia sahabatmu?” tutur sang papa dengan lembut
”Sahabat?!. Dia bukan sahabat Rina, pa.” ucap Rina sambil memeluk papanya
”Apa karena dia bercadar? Adek, tidak semua gadis bercadar adek benci. Papa lihat akhlaknya baik kok.” ucap sang papa lembut
”ngga, pa. Gara-gara dia Rina celaka. Rina udah ngga layak hidup pa. Rina udah jadi sampah.” Teriak Rina penuh amarah
“Adek, kamu gapapa. Pria itu tidak memperkosamu.”
Mendengar penjelasan sang papa, Rina bersikap lebih tenang dan bernapas lega. Tapi hatinya semakin dipenuhi dendam. Dia berjanji akan membuat perhitungan kepada wanita yang mengancamnya. Dia akan mencari tahu siapa wanita tersebut.
Kejadian kemarin malam sengaja ditutupi agar tidak tersebar ke media massa. Papanya meminta pihak rumah sakit dan orang-orang yang terkait untuk tidak membocorkan peristiwa pemerkosaan terhadap anaknya itu. Karena akan merusak reputasi papanya dan pekerjaan Rina sebagai model. Sedangkan sang mama merasa khawatir kenapa Rina tidak menjenguk dirinya. Papanya terpaksa menceritakan musibah yang dialami anak semata wayangnya itu.
Rida yang diusir oleh Rina langsung menuju kamar bapaknya. Dia memilih tidak menceritakan peristiwa kemarin malam. Faiza memberitahu Rida bahwa bapaknya diperbolehkan pulang besok. Rida pun terlihat sumringah mendengar kabar tersebut. Faiza merasa senyum Rina begitu datar seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Faiza tahu karakter kakaknya itu dikala ada masalah yang mengganggu pikirannya.
***
”Iza ma bapak duluan aja ke mobil, Rida ada urusan bentar.”ucap Rida sembari pergi
Faiza merasa curiga melihat sikap Rina yang tidak seperti biasanya. Dia yakin Rida pasti ingin menemui seseorang di rumah sakit. Tapi siapa? Apakah temannya sakit? Kalaupun iya, kenapa mba’ Rida menyembunyikannya?. Serba tertutup. Itulah pertanyaan Faiza.
”Assalaamu’alaykum.” sapa Rida
”Wa’alaykumussalaam.” Balas seoerang wanita
”Bu, Rida mau pamit dulu. Titip surat ini buat Rina ya bu.“ Pinta Rida sembari menyodorkan sebuah surat
Rida berpamitan kepada ibu Ros, mamanya Rina. Rida menganggap mamanya adalah ibu kandungnya sendiri. Selama ini Rina tidak pernah tahu bahwa Rida-lah yang menjaga mamanya setiap kali Rina dan papanya kerja. Terlebih lagi mamanya menyayangi Rida seperti anaknya sendiri. Sehingga jika ada pembantunya yang menjaganya, dia menyuruhnya pulang. Melalui Rida lah ibu Ros tahu tentang islam dan dia meminta Rida juga mengajari Rina, terutama kewajiban berjilbab. Tapi sampai saat ini Rida belum mewujudkan permintaan bu Ros karena Rina begitu sangat membencinya.
Rida pun memeluk erat bu Ros sebagai tanda perpisahan. Bu Ros pun memeluknya dengan hangat. Tanpa sengaja air mata Rida tumpah. Dia menangis dipangkuan bu Ros. Pertemuan yang singkat serasa begitu lama. Rida yang mendambakan sosok seorang ibu, ia dapatkan dari bu Ros. Begitu juga ibu Ros. Dari lubuk hatinya dia sangat menyayangi Rida bahkan seandainya Rida tidak keberatan, dia ingin mengangkat Rida sebagai anak angkatnya. Tapi, Rida bukanlah anak yatim piatu. Dia memiliki seorang ayah yang butuh penjagaannya. Dia berharap Rina bisa seperti Rida.
Pertemuan yang sementara menjadi sebuah perjumpaan yang bermakna antara seorang ibu dan anak. Seakan tak mau berpisah, bu Ros memberikan alamat dan no teleponnya. Bu Ros tidak pernah merasakan kasih sayang dari anaknya sendiri. Bahkan Rina lebih mengutamakan pekerjaannya ketimbang menjenguk mamanya sendiri. Walaupun begitu bu Ros tidak pernah menyesal dan marah dengan sikap Rina. Ia hanya menyesal karena membesarkan Rina dengan cara yang salah.
Rina segera melepaskan pelukannya dan berpamitan untuk terakhir kalinya. Sesampainya di pintu kamar, Rida menatap kembali wajah bu Ros. Ada kedamaian dan kesedihan yang tampak di wajah bu Ros. Sesegera mungkin Rida pergi dari hadapannya. Dia tidak ingin semakin sedih.
“Iza, kamu disini?“ tanya Rida sambil menghapus air matanya
Ternyata tanpa sepengetahuan Rida, Faiza mengikuti kemana Rida pergi. Kecurigaan Iza benar. Rida menyembunyikan pertemuannya dengan bu Ros. Iza juga mendengar pembicaraan mereka seputar Rina dan peristiwa pemerkosaan terhadap Rina.
”Iza udah tahu semuanya mba. Kenapa mba ngga cerita ma Iza?“ tanya Faiza sedikit kecewa sambil menghapus air matanya
Rupanya Faiza ikut terharu melihat ketulusan kakaknya dan kehangatan kasih sayang seorang ibu Ros walupun bukan ibu kandungnya. Akhirnya Rida terpaksa menceritakan semuanya. Setelah mendengar penuturan Rida, Faiza geram terhadap Rina. Namun, sebagai kakak-Rida-menasihati Faiza bahwa kemarahan justru akan membunuh dirinya. Rida pun memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Rina sekaligus berpamitan. Walaupun dalam hati kecilnya Rina tidak akan menerima kehadirannya. Rida juga terpaksa mengajak Faiza yang ngotot ingin ikut. Namun dengan syarat Faiza tidak ikut masuk ke dalam ruangan.
“Assalaamu’alaykum.“
Seperti biasa ucapan salam Rida tidak pernah dijawabnya. Tapi kali ini Rina terlihat lebih tenang tidak arogan seperti sebelumnya. Rida lalu memberanikan diri masuk.
“Mba’ udah sehat?“ tanya Rida dengan lembut
“Ngapain lo kesini? Sok perhatian segala atau lo mau ngetawain gue?!“ Tuduh Rina dengan kasar
“Saya Cuma mau minta maaf sekalian pamit pulang, mba’.“ Jawab Rida mengulurkan tangan kanannya
”Eh, ninja. Sampai kapanpun gue ngga akan baikan sama lo. Ngerti lo.“ Umpat Rina
“Tapi, mba..; Belum selesai bicara Rina mendorong Rida hingga terjatuh.
“Kalo gue suruh pergi…ya pergi..punya kuping ngga sih lo. Dasar tuli..!“
Melihat perlakuan Rina terhadap Rida, Faiza pun tidak tahan. Dia tidak menyangka bahwa kakaknya begitu sabar menerima perlakuan kasar Rina.
“Cukup, mba’. Masih belum puas nyakitin mba’ Rida?”Tanya Faiza sedikit emosi
“Emang lo siapa, hah. Oh ya..lo adiknya? Kebetulan bilang sama kakakmu yang tuli itu jangan sok cari perhatian, sok baiklah.“
Mendengar kata-kata Rina, Faiza semakin emosi. Dia tidak mau harga dirinya dan kakaknya diinjak-injak oleh Rina. Faiza pun membantu Rida berdiri.
“Plaakkk…Itu adalah balasan untuk mulut mba’ yang kotor.“ Tampar Iza penuh amarah
Rida kaget melihat tamparan Faiza, adiknya. Selama ini adiknya dikenal pendiam dan tidak pernah berbicara kasar. Iza segera mengajak Rida pergi karena khawatir terjadi pertengkaran yang lebih parah. Sedangkan Rina tercengang kaget sambil memegang pipinya. Dia teringat bekas tamparan Sari dulu. Sebuah de ja vukembali terulang.
“Asal mba’ tau. Orang yang mba’ benci adalah orang yang menolong mba‘ dari tindak pemerkosaan yang mba‘ alami. Oh ya satu lagi. Mba‘ Rida adalah teman lama yang sudah mba‘ sakiti sama seperti yang mba‘ lakukan barusan. Ingat itu..!“
Rina tertegun dan tak tahu harus berkata apa. Mulutnya seperti terkunci rapat. Bayang-bayang peristiwa buruk kembali terlintas di benaknya. Ada perasaan bersalah di hatinya. Orang yang selama ini ia benci ternyata adalah orang yang telah menolongnya. Rina tertunduk lesu. Dia masih belum percaya bahwa Rida-lah yang menolongnya. Tapi bagaimana mungkin?
Pak Ali, papanya datang dan membawa makanan yang dipesan Rina. Rina sudah diperbolehkan pulang. Tidak perlu dibawa ke psikiater untuk terapi karena Rina hanya syok dan tidak ada tanda-tanda trauma. Namun melihat wajah Rina kusut, Pak Ali heran.
“Adek, kenapa kok lesu gitu?“ tanya papanya
“Pa, apa bener Rida yang nolongin Rina?“ Tanya Rina mengangkat kepalanya
“Rida..gadis bercadar yang kamu usir kemaren?“ Tanya papanya mencoba mengingat
Rina mengangguk lemas; “Dia yang memanggil papa saat papa di kamar mamamu. Waktu itu Rida mau sholat malam. Saat mau masuk ke kamar mandi, Rida mendengar suara wanita seperti dibungkam. Agar lebih yakin Rida mengintip dan ternyata pria itu mencoba memperkosamu.“
Mendengar penjelasan papanya, tumpahlah air mata Rina. Dia pun beranjak pergi berusaha mengejar Rida. Tapi sia-sia. Rina teringat penjelasan papanya. Bagaimana mungkin Rida tahu kamar mamanya? Akhirnya Rina menuju ke kamar mamanya untuk meminta penjelasan.
“Mama gimana kabarnya?“ tanya Rina basa-basi
“Adek, gimana?“ tanya mamanya
Rina tidak menjawab pertanyaan mamanya. Dia mencium pipi mamanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Mama kenal Rida?“ Tanya Rina tiba-tiba
“Gadis yang menolongmu kemaren?“
“Mama tau darimana? “ Tanya Rina penasaran
“ Papamu yang cerita. Rida adalah gadis yang baik. Dia yang merawat dan menjaga mama. “
“ Bukankah bik inah udah jagain mama? “
“ Mama suruh bik inah di rumah aja. “
“ Tapi kenapa mama bisa kenal Rida?” Tanya Rina tambah penasaran
Mamanya pun menceritakan awal pertemuannya dengan Rida. Sewaktu Rida melewati kamar mamanya tanpa sengaja dia melihat seorang wanita-yang mengancam Rina-masuk ke kamar mamanya saat sedang tidur. Rida pun curiga wanita itu akan melakukan tindak kekerasan. Sehingga Rida ikut masuk seolah-olah mau menjenguk mamanya. Melihat Rida, wanita itu pun segera pergi tanpa sepatah katapun.
“Rida hanya ingin meminta maaf dan ingin berteman denganmu. Tidak sepantasnya kamu berbuat kasar kepadanya.” Ucap mamanya
“Dia ngadu ke mama. Dasar sok baik.” Kembali Rina mengumpat
“Mama tau semuanya dari papamu. Rida tidak pernah menjelek-jelekkanmu di depan mama.“ Jawab mamanya memberi pengertian
Rina kembali tertegun. Dia tidak ingin mempercayai penjelasan mamanya. Dia berharap mamanya bohong. Tapi kenyataannya tidak.
“Rin, mama ingin kamu merubah sikapmu. Mama tau ini semua kesalahan mama yang selalu memanjakanmu. Berteman dan belajarlah agama kepada Rida. Disisa umur mama, mama ingin melihat kamu memakai jilbab. Seandainya mama diberi kesempatan umur panjang, mama akan berjilbab. Selama ini mama dan papamu selalu menganggap uang segala-galanya. Ternyata penilaian mama salah. Cintalah yang membuat kita tenang dan damai. Kamu liat Rida. Dia tidak pernah mengeluh walau hidup kesusahan. Hidupnya dan masa depannya dia korbankan untuk merawat bapaknya dan membiayai kuliah adiknya. Mama ingin kamu bercermin kepada Rida. Mama ingin kamu meluangkan waktu untuk mama, disisa-sisa kehidupan mama. Kamu tau kenapa mama tidak mau berobat di luar negeri dan memiih dirawat di kamar kelas biasa? Mama hanya ingin merasakan kasih sayang dan perhatian kamu. Terlebih lagi kanker mama sudah tidak bisa disembuhkan.“
Pengakuan mamanya menghujam disudut hatinya yang kelam. Rina semakin sedih dan mengutuk dirinya sendiri yang tidak memperhatikan mamanya. Dia lebih mementingkan pekerjaannya. Selama ini dia jarang menjenguk mamanya. Dia juga semakin bersalah tentang sikapnya terhadap Rida. Penilaiannya selama ini hanyalah rasa dendam dan kebencian terhadap Irma, teman kuliahnya. Mungkin penilainnya terhadap Irma juga salah.
“Rin, mama boleh minta tolong?“
Rina hanya mengangguk. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Rasa bersalahnya yang terlampau banyak tak mampu menatap mamanya.
“Kamu mau belikan mama jilbab?“ Pinta mamanya
Rina kembali mengangguk dan langsung memeluk mamanya. Dia hempaskan tubuhnya kepelukan mamanya. Tangisannya pecah. Dia meminta maaf atas kedurhakaannya selama ini. Mamanya pun tersenyum bahagia. Dia membelai rambut panjang anaknya itu dengan lembut dan mencium keningnya. Rina kemudian melepaskan pelukannya.
“Oh ya. Ini ada titipan dari Irma, teman kuliahmu dulu.“ Ucap mamanya sambil menyodorkan sebuah surat
“Irma..“ Tanya Rina kaget
“Ya, Rida adalah Irma, temanmu. Rida adalah nama panggilan di rumahnya. Bapak dan adiknya biasa memanggilnya dengan nama Rida. Dia meminta mama untuk tidak memberitahumu sebelum kamu mau menjadi temannya. Apalagi setelah mama tau kalau dia teman kuliahmu. Terus terang mama tidak tau masalah diantara kamu dan Rida. Yang mama tau dia hanya ingin berteman denganmu.”
Lemas sudah tubuhnya. Seperti manusia tak ber tulang, tidak ada penyangga untuk berdiri. Keangkuhan dan kebenciannya selama ini membuatnya buta akan sebuah ketulusan. Tulusnya sebuah persahabatan. Dia lalu beranjak pergi untuk membeli jilbab yang dipinta mamanya.
Secara perlahan Rina membuka surat dari Rida alias Irma. Dia teringat semua kesalahannya dan sikapnya yang kasar terhadap Rida. Penyesalan terdalam adalah setiap Rida mengajak bersalaman selalu ia tolak dengan angkuh.
***
Assalaamu’alaykum.
Rina, Saudariku. Saat kamu membaca surat ini mungkin kamu sudah tau siapa saya. Semenjak awal kita bertemu di rumah sakit, saya ingin memperbaiki hubungan pertemanan kita yang terputus saat kuliah dulu. Tidak ada niat apapun yang terlintas dibenakku untuk mengganggu hari-harimu.
Saudariku. Setelah kejadian pahit yang menimpamu saya terpaksa memberanikan diri untuk mengungkapkan semua uneg-uneg yang selama ini saya simpan.
Ketahuilah bahwa mahkota seorang wanita terletak pada tubuh dan kehormatannya. Kehormatan seorang wanita tidak bisa ditebus dengan emas sekalipun. Karena wanita adalah bidadari yang keindahannya membuat para lelaki terpukau. Karena wanita adalah tempat godaan syahwat, dia yang mengirim panah kepada laki-laki dengan panah pandangannya. Jika ia membatasi pandangannya dan tetap hanya memandang satu laki-laki saja, maka hal itu tidak mempengaruhi sedikitpun karena ada satu garis, di mana tidak terjadi kejahatan kecuali adanya sebab dan akibat.
Sudah diketahui, sesungguhnya mata mengirim panah yang tidak terlihat yang bisa menembus jantung, lalu ia menggerakkan nafsu syahwatnya yang tersembunyi. Di mana pemiliknya terdorong di belakang pemilik mata tersebut, atau pemikirannya menjadi terganggu dengannya.
Saudariku. Bukankah tindak pemerkosaan terjadi hanya pada wanita yang menampakkan auratnya?Memamerkan lekuk tubuhnya dan menampakkan perhiasannya?
Saudariku. Sesungguhnya hijab (Jilbab) adalah karakteristik dan penjaga. Yang terjaga padanya para wanita muslimah. Saya melihat sebagai baju besi penjaga bagi para wanita kita. Dari panah orang-orang fasik para pelacur. Peliharalah kecantikanmu dengan hijab sesungguhnya ia adalah satu bagian taqwa dan tanda rasa malu. Hendaklah engkau bertaqwa, maka sesungguhnya memakainya adalah penutup dan sesungguhnya selimutnya adalah sebaik-baik penutup.
Hijab adalah benteng yang kokoh bagi wanita dari srigala manusia dari laki-laki yang mengintai aurat saudari mereka para wanita muslimah, dan ia merupakan tamparan di wajah laki-laki fasik yang berusaha mencuri pandangan untuk mengetahui kecantikan pemilik hijab untuk menjerumuskannya di dalam jaringnya dan merobek kehormatan dan kemuliaannya.
Dia juga lebih mirip dengan awan hitam yang gelap, di dalamnya adalah kebaikan dan hujan. maka apabila tersingkap maka tidak ada kebaikan dan tidak ada hujan.
Ia menutupi hiasan buatan yang dipakai sebagian wanita berupa bedak dan gincu. Sebagaimana ia merupakan sarana pembelaan laki-laki pada istrinya, maka tidak ada seorang pun yang menyamainya dalam melihat hiasannya selain mahramnya.
Ia mirip pintu tertutup, tidak ada seorang pun yang berani memasukinya, apabila ia menutupnya karena taat kepada Alloh.
Saudariku. Tutuplah auratmu. Peliharalah ia dari serigala-serigala jalanan. Pernahkah engkau melihat serigala yang jujur?
Maafkan saya jika ada bait-bait nasihat yang menyakiti hatimu. Sesungguhnya apa yang tertulis dalam surat ini adalah harapan mamamu. Ibu yang telah melahirkanmu. Jika kamu menolaknya, kamu boleh membuangnya bahkan dirobek sekalipun tidak masalah. Setidaknya saya sudah memenuhi permintaan mamamu walau hanya dengan secarik kertas using yang tidak berharga disisimu. Saya mencintaimu karena Alloh dan berharap semoga kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik.
***
Sebuah untaian mutiara nasihat dari Irma membuat Rina semakin sadar. Dia terlalu bangga dengan kecantikannya dan keindahan tubuhnya. Sehingga kehormatannya hampir terenggut tanpa sisa. Dia pun berniat mengikuti jejak mamanya yang mau berjilbab. Dia pun berharap suatu saat bisa bertemu dengan Irma dalam keadaan yang lebih baik. Tidak ada dendam dan permusuhan.
Hampir tiga jam lebih Rina keliling mencari Jilbab. Mungkin karena belum tahu letak toko yang menjual pakaian muslimah. Akhirnya dengan susah payah dia mendapatkan jilbab lengkap dengan pakaiannya berwarna ungu. Dia memilih ungu karena warna kesukaannya. Segera ia ganti baju seksinya dengan pakaian muslimahnya. Dia ingin menunjukkan kepada mamanya seperti keinginan mamanya.
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Sesegera mungkin Rina memacu kendaraannya. Entah kenapa Rina begitu semangat ingin memperlihatkan perubahannya kepada mamanya tersebut. Dia bertekat untuk memperbaiki kesalahannya dan memulai hidup baru.
Kurang lebih satu jam Rina tiba di rumah sakit. Buru-buru dia menuju kamar mamanya. Sesampainya di pintu kamar, Rina kaget kenapa para suster dan dokter sibuk mondar-mandir keluar masuk kamar mamanya. Wajah mereka terlihat panik. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan mamanya. Dia pun masuk ke dalam ruangan dengan perasaan cemas.
“Dok, mama kenapa?” Tanya Rina cemas
“Maafkan saya.” Jawab dokter singkat dan pergi
Tiba-tiba papanya datang dan langsung memeluk Rina. Rina tak kuasa menahan tangis. Hadiah jilbab untuk mamanya terlepas dari tangannya. Ketika dia ingin membuka lembaran baru, ternyata dia harus mengubur lembaran lama. Dia menyesal tidak bisa mewujudkan keinginan mamanya..
***
Rina menghapus air matanya. Dia bernapas panjang. Dia menghentikan ceritanya. Sedangkan Arman matanya berkaca-kaca. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia menunggu beberapa detik Rina kembali bercerita. Namun, Rina tidak melanjutkan ceritanya. Sehingga Arman berbalik bertanya.
“Saya minta maaf karena kamu harus membuka kembali musibah yang menimpamu. Saya juga turut berduka atas meninggalnya mamamu. Kalau boleh bertanya sekali lagi, kenapa kamu begitu membenci Irma? Apakah dia melakukan perbuatan yang menyakiti hatimu?” Tanya Arman kembali tertunduk
Pertanyaan Arman kali ini membuat Rina kembali bersedih. Kenapa tidak? Mau tidak mau dia harus membuka kembali kesalahannya terhadap Irma.
Selasa, 06 Desember 2011
Hijab Muslimah
Sesungguhnya seorang wanita muslimah akan
menemukan bahwa di dalam hukum islam ada perhatian yang sangat tinggi
terhadap dirinya agar dapat menjaga kesuciannya, agar dapat menjadi
wanita mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi. Dan syarat-syarat yang
diwajibkan pada pakaian dan perhiasannya tidak lain adalah untuk
mencegah kerusakan yang timbul akibat tabarruj (berhias diri) dan
menjaga dirinya dari gangguan orang-orang. Syariat Ini pun bukan untuk
mengekang kebebasannya akan tetapi sebagai pelindung baginya agar tidak
tergelincir pada lumpur kehinaan atau menjadi sasaran sorotan mata dan
pusat perhatian.
KEUTAMAAN HIJAB
Pertama, Hijab merupakan tanda ketaatan seorang muslimah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firmanNya:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ
وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula)
bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)
Allah juga telah memerintahkan para wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ
فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah
mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An Nuur: 31)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah.” (QS. Al Ahzab: 33)
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-
istri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu
lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ
الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى
أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka
lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Kedua, Hijab itu Iffah (Menjaga diri).
Allah menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah
(menahan diri dari maksiat). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ
الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى
أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka
lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindar dan menahan
diri dari perbuatan dosa, karena itulah Allah menjelaskan manfaat dari
hijab ini, “karena itu mereka tidak diganggu.” Ketika seorang
muslimah memakai hijabnya dengan benar maka orang-orang fasik tidak
akan mengganggu mereka dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu”
sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu
bentuk gangguan berupa godaan dan timbulnya minat untuk melakukan
kejahatan bagi mereka.
Ketiga, Hijab itu kesucian.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-
istri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu
lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)
Allah subhanahu wa ta’ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati
orang-orang mukmin, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak
melihat maka hati pun tidak akan bernafsu. Pada keadaan ini maka hati
yang tidak melihat maka akan lebih suci. Keadaan fitnah (cobaan) bagi
orang yang banyak melihat keindahan tubuh wanita lebih jelas dan lebih
nampak. Hijab merupakan pelindung yang dapat menghancurkan keinginan
orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah berfirman:
إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا
“Jika kalian adalah wanita yang bertakwa maka janganlah kalian
tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit
dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32)
Keempat, Hijab adalah pelindung.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka
lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)
Kelima, Hijab itu adalah ketakwaan.
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي
سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ
آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu
pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan
pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah
sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka
selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26)
Keenam, Hijab menunjukkan keimanan.
Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah berfirman tentang hijab kecuali bagi wanita-wanita yang beriman, sebagaimana firmannya, “Dan katakanlah kepada wanita-wanita beriman.” (QS. An-Nuur: 31), juga firman-Nya: “Dan istri-istri orang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 59)
Dalam ayat-ayat di atas Allah menghimbau kepada wanita beriman untuk
memakai hijab yang menutupi tubuhnya. Ketika seorang wanita yang benar
imannya mendengar ayat ini maka tentu ia akan melaksanakan perintah
Tuhannya dengan senang hati. Maka bagaimanakah iman seorang wanita yang
mengetahui ada perintah dari Rabbnya kemudian ia tidak melaksanakannya,
bahkan ia melanggarnya dengan terang-terangan di hadapan umum !!!
(contohnya mengumbar aurat di muka umum).
Ketujuh, Hijab adalah rasa malu.
Rasulullah bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الْأُوْلىَ : إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya yang didapatkan manusia pada ucapan nubuwwah yang
pertama kali: Jika kalian tidak malu maka lakukanlah perbuatan sesuka
kalian.” (HR. Bukhari)
Wanita yang mengumbar auratnya tidak disangsikan lagi bahwa tidak
ada rasa malu darinya, ia mengumbar auratnya di mana-mana tanpa ada
perasaan risih darinya, ia menampilkan perhiasan yang tidak selayaknya
dibuka, ia memamerkan barang berharganya yang pantasnya hanya layak
untuk ia berikan kepada suaminya, ia membuka sesuatu yang Allah
perintahkan untuk menutupnya!
Kedelapan, Hijab adalah ghirah (rasa cemburu).
Hijab berbanding dengan perasaan cemburu yang menghinggapi seorang
wanita sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat
yang tertuju pada istri dan anak wanitanya. Betapa banyak pertikaian
yang terjadi karena wanita, betapa banyak tindakan buruk yang terjadi
kepada wanita serta betapa banyak seorang lelaki gagah yang menjadi
rusak karena wanita. Wahai para wanita jagalah aurat kalian supaya
kalian menjadi wanita-wanita yang terhormat! Wahai para lelaki
perintahkanlah kepada keluargamu untuk menutup auratnya dan cemburulah
kepada orang-orang dekatmu yang membuka auratnya di hadapan orang lain
karena tidak ada kebaikan bagi seseorang yang tidak mempunyai perasaan
cemburu!.
HIKMAH DARI FIRMAN ALLAH:
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera.” (QS. An Nuur: 2)
Dalam ayat ini Allah menyebutkan seorang pezina perempuan terlebih
dahulu daripada pezina laki-laki, karena dalam perzinaan seorang
wanitalah yang menentukan akan terjadi atau tidaknya perzinaan, ketika
seorang wanita membuka hijabnya dan membuka dirinya untuk berdua-duaan
dengan seorang pria maka wanita ini telah membuka pintu
selebar-lebarnya untuk terjadinya perzinaan! Wallahul musta’an.
Saudariku.. Kenalilah Tuhanmu, Nabimu, Dan Agamamu (1)
Mengetahui Tiga Landasan Pokok
Mengenal Allah, Nabi-Nya, dan agama Islam adalah tiga landasan pokok yang wajib diketahui seorang hamba. Jika seseorang mengetahui tiga hal ini serta melaksanakan segala konsekuensinya maka baginya keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Mengapa ini penting bagi seorang hamba? Sebab seorang hamba ketika di alam kubur akan ditanya, “siapa Rabbmu? siapa nabimu? dan apa agamamu?” Jika dia diberi taufik untuk menjawab tiga perkara di atas maka selamatlah dia dari siksa kubur di mana hal tersebut menjadi indikator keselamatannya di akhirat. Begitu pun sebaliknya, seorang hamba yang tidak bisa menjawab tiga perkara tersebut maka sengsaralah nasibnya di akhirat kelak. Wal-‘iyadzubillah.
Dalam pembahasan ini penulis hanya akan menyampaikan secara global masalah tiga landasan utama tanpa menjelaskannya secara terperinci. Berikut ini penjelasan ketiga landasan tersebut.
Landasan Pertama: Mengenal Allah Sebagai Rabb
Secara bahasa, kata Ar-Rabb bermakna pemelihara. Dari kata Ar-Rabb ini terkandung beberapa makna yang lain semisal Al-Malik (penguasa), Al-Mudabbir (pengatur), Al-Mutasharrif (pengatur)dan Al-Muta’ahhid (pemelihara). Penulis kitab Ushul Tsalatsah, Syaikh Muhammad At-Tamimi lebih memilih makna Ar-Rabb sebagai pemelihara. Sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab beliau
ربي الله الذي رباني، وربى جميع العالمين بنعمه
“Rabbku adalah Allah yang memeliharaku dan memelihara seluruh alam semesta dengan nikmat-Nya…”Kata Ar-Rabb juga bermakna ma’bud (sesembahan). Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
”Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” QS. Al-Baqarah: 21)Mengenai makna Rabb dari ayat di atas, Imam Ibnu Katsir mengatakan:
الخالقُ لهذه الأشياء هو المُسْتَحِقُّ للعبادةِ
“Sang Pencipta segala sesuatu adalah Dzat yang berhak disembah.” Hal
ini selaras dengan tujuan diutusnya para Rasul yaitu untuk menyeru
kaumnya agar hanya menyembah Allah saja dan tidak menyembah selain-Nya,
sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat
(untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu’” (QS. An-Nahl: 36)Mengapa penting bagi kita untuk mengenal Allah sebagai Rabb? Seorang hamba harus mengenal Rabbnya yang Maha Suci lagi Maha Tinggi yang diperoleh melalui kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, baik itu berupa keesaan, nama-nama, maupun sifat-sifat-Nya. Dia adalah Rabb dari segala sesuatu dan Penguasanya, tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Dia dan tidak ada Rabb yang berhak diibadahi, melainkan Dia semata. Oleh karena itu kita wajib mengetahuinya agar kita benar-benar bisa mengabdi kepada-Nya dan dengan pengetahuan yang benar.
Adapun mengenal Allah bisa ditempuh dengan memperhatikan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Dari segi bahasa al-aayah [arab: الأية ] memiliki banyak arti, di antaranya bermakna burhan [arab: برهان ] (keterangan) dan dalil. Ayat Allah sendiri dibagi dua macam:
- Ayat-ayat syar’iyyah: maksudnya adalah wahyu yang dibawa para rasul, yang demikian itu adalah ayat-ayat Allah. Allah ta’ala berfirman:
- Ayat-ayat kauniyah: yaitu para makhluk, seperti langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain.
هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ
“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an)” (QS. Al-Hadid: 9)Bagaimana wahyu bisa dijadikan dalil tentang keberadaannya Allah subhanahu wa ta’ala? Alasannya karena wahyu yang dibawa para rasul adalah wahyu yang sudah tersusun rapi dan sempurna serta tidak saling berlawanan. Allah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’anul Karim:
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan adanya pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa’: 82)Dengan demikian jelaslah bahwa Al-Qur’anul Karim merupakan dalil tentang adanya Rabb yang Maha Agung.
Berkaitan dengan wajibnya seorang hamba mengenal Allah—yakni untuk bisa benar-benar beribadah dengan pemahaman yang benar—maka seorang hamba pun harus mengetahui ibadah apa yang sangat diperintahkan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Perkara tersebut adalah tauhid.
Syaikh At-Tamimi, penulis kitab Ushul Tsalatsah, mendefinisikan tauhid sebagai pengesaan Allah dalah hal ibadah. Makna tauhid sendiri secara umum adalah pengesaan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan nama serta sifat-sifat Allah. Untuk itu sebagian ulama membagi tauhid menjadi tiga macam, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Adapun penjelasan masing-masingnya adalah sebagai berikut:
- Tauhid rububiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Pencipta seluruh makhluk, Penguasa dan Pengatur segala urusan alam, Yang memuliakan dan menghinakan, Yang menghidupkan dan mematikan, Yang menjalankan malam dan siang, serta Yang maha kuasa atas segala sesuatu. Dengan demikian, tauhid rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal, yaitu: (1) beriman kepada perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala secara umum, seperti menciptakan, memberikan rizki, menghidupkan, mematikan, dan lain-lain; (2) beriman kepada qadha dan qadar Allah Ta’ala; (3) beriman kepada keesaan Dzat-Nya.
- Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Seperti, berdo’a, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakkal, bertaubat, dan lain-lain. Kemurnian tauhid uluhiyah hanya akan diperoleh dengan mewujudkan dua hal mendasar, yaitu: (1) seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah Ta’ala saja, bukan kepada yang lainnya; (2) dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan syari’at Allah Ta’ala.
- Tauhid asma’ wa shifat adalah keyakinan tentang keesaan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya yang terdapat di Al-Qur’an dan As-Sunnah, disertai dengan meingimani makna-makna dan hukum-hukumnya (konsekuens-konsekuensinya). Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam tauhid asma’ wa shifat adalah sebagai berikut: (1) Harus menetapkan semua nama dan sifat Allah Ta’ala, tidak menafikan (meniadakan) dan tidak pula menolaknya; (2) tidak boleh melampaui batas dengan menamai dan mensifati Allah Ta’ala di luar nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya; (3) tidak menyerupakan nama dan sifat Allah Ta’ala dengan nama dan sifat para makhluk-Nya; (4) tidak boleh (dan tidak memungkinkan) untuk mencari tahu kaifiyah (bagaimananya) dari sifat-sifat Allah tersebut; (5) beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan konsekuensi nama dan sifat-Nya.
Selasa, 29 November 2011
Bolehkah Rebounding?
Beberapa pelajar yang berambut halus (lurus) menjadikan rambutnya keriting dengan cara yang sudah dikenal di tengah-tengah mereka. Apa hukum perbuatan semacam ini padahal diketahui bahwa hal ini sering dilakukan oleh orang barat?
Jawab: Para ulama mengatakan bahwa perbuatan mengkriting rambut itu tidak mengapa, artinya asalnya boleh saja. Asalkan mengkriting rambut tersebut tidak menyerupai model wanita fajir dan kafir, maka tidaklah mengapa. [Sumber: Fatawa Al Jaami’ah lil Mar’ah Al Muslimah (3/889)][1]
Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan hafizhohullah (salah satu anggota Komisi Fatwa di Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’) juga pernah ditanya mengenai hukum taj’id ar ro’si. Yang dimaksud di sini adalah mengkriting rambut atau membuatnya lebih keriting. Keriting tersebut bertahan beberapa waktu. Terkadang wanita yang ingin mengkriting rambutnya ini pergi ke salon-salon dan menggunakan bahan atau alat tertentu sehingga membuat rambut tersebut keriting sampai enam bulan.
Jawab: Diperbolehkan bagi wanita untuk mengkriting rambutnya asalkan tidak mengikuti model orang kafir. Syarat lainnya, ia tidak boleh menampakkan rambutnya tadi kepada para pria selain mahromnya. Ia boleh mengkriting rambutnya dengan bantuan wanita lain yang dapat dipercaya. Keriting rambut tersebut boleh bertahan sebentar atau dalam waktu yang lama. Ia boleh menggunakan bahan yang mubah (dibolehkan) atau selainnya untuk mengkriting rambut tersebut. Namun catatan yang perlu diperhatikan, hendaklah wanita tersebut tidak pergi ke salon untuk melakukan hal ini. Karena jika ia mesti keluar rumah, itu akan menimbulkan fitnah (godaan bagi para pria) atau ia akan terjerumus dalam hal yang dilarang. Pekerja salon boleh jadi adalah wanita yang tidak paham agama (sehingga tidak dapat dipercaya dan dapat membuka aibnya, pen), atau bahkan lebih parah lagi jika pekerjanya adalah seorang pria, jelas-jelas ia haram untuk menampakkan rambutnya pada mereka.[2]
Rebounding Itu Haram Bagi Wanita yang Tidak Berjilbab
Dari penjelasan kedua ulama besar di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa mengkriting rambut asalnya dibolehkan. Ini berlaku pula untuk rebounding (membuat rambut keriting menjadi lurus/halus). Namun ada catatan yang mesti diperhatikan:
Pertama: Keriting dan rebounding tersebut tidak boleh mengikuti model wanita kafir atau wanita fajir (yang gemar maksiat).
Kedua: Yang boleh mengkriting rambut atau merebounding adalah wanita yang dapat dipercaya sehingga tidak akan membuka aib-aibnya. Lebih-lebih tidak boleh lagi jika yang mengkriting rambutnya adalah seorang pria yang ia haram menampakkan rambut pada mereka.
Ketiga: Rambut yang dikeriting atau direbounding tidak boleh ditampakkan kecuali pada suami atau mahromnya saja.
Sehingga dari sini, wanita yang tidak berjilbab tidak boleh merebounding rambut atau mengkeriting rambutnya karena tujuan ia yang haram yaitu ingin pamer rambut yang merupakan aurat yang wajib ditutupi. Asalnya, memang mengkeriting atau merebounding itu dibolehkan namun karena tujuannya untuk pamer aurat yaitu rambutnya, maka ini menjadi haram. Ada sebuah kaedah yang sering disampaikan para ulama: al wasa-il ilaa haroomin haroomun(perantara menuju perbuatan haram, maka perantara tersebut juga haram). Pamer aurat adalah haram. Rebounding bisa dijadikan jalan untuk pamer aurat. Sehingga berdasarkan kaedah ini rebounding pada wanita yang pamer aurat (enggan berjilbab) menjadi haram.
Bahaya Pamer Rambut yang Merupakan Aurat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”[3]
Di antara tafsiran “wanita yang berpakaian tetapi telanjang” adalah wanita tersebut membuka aurat yang wajib ditutupi[4] seperti membuka rambut kepala. Padahal aurat wanita yang wajib ditutupi adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Berarti rambut kepala termasuk aurat yang wajib ditutup. Allah Ta’ala berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, danjanganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur: 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Atho’ bin Abi Robbah, ‘Ikrimah, Makhul Ad Dimasqiy, dan Al Hasan bin Muhammad Al Hanafiyah rahimahumullah bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.[5]
Lihatlah ancaman untuk wanita yang sengaja buka-buka aurat: Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.
Rambut kepala juga merupakan perhiasan wanita yang wajib ditutupi. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[6]
Dari sini, sungguh sangat aneh jika ada yang menghalalkan rebounding untuk wanita yang ingin pamer aurat?!
Semoga para wanita muslimah selalu diberi taufik oleh Allah untuk memiliki sifat malu. Sifat inilah yang akan mengantarkan mereka pada kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ
“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.”[7]
Semoga Allah memberi taufik untuk memperhatikan dan mengamalkan aturan yang telah Allah gariskan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Langganan:
Postingan (Atom)